PEWARISAN TARI TAREK PUKAT (TARIAN PESISIR ACEH) DI SANGGAR CUT NYAK DHIEN

Fitriani Fitriani

Abstract


Tujuan penelitian ini adalah mengkaji Tari Tarek Pukat sebagai ekspresi kehidupan masyarakat pesisir dan upaya pewarisannya di sanggar Cut Nyak Dhien. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interdisiplin. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, kemudian dianalisis menggunakan alur reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukan bahwa, Tari Tarek Pukat diciptakan oleh Yuslizar pada tahun1958. Tarek Pukat menggambarkan aktivitas para nelayan yang menangkap ikan dilaut tarek berarti tarik sedangkan pukat adalah alat sejenis jaring yang digunakan untuk menangkap ikan. Tarian ini ditarikan oleh 13 penari yang terdiri dari 8 penari wanita dan 5 penari pria. Tarian ini mempunyai 19 pola gerakan yang dibagi menjadi dua yaitu 7 pola gerakan untuk penari wanita dan 14 untuk pola gerakan penari pria dengan pola lantai bermacam ragam untuk penari lelakisedangkan penari wanita menari dengan posisi duduk bersaf. Tema yang digunakan pada tarian ini yaitu aktivitas masyarakat nelayan yang sedang mencari ikan dilaut. Pengiringnya yaitu Serune Kalee, Geundrang Aceh dan Rapa’I serta syair tari Tarek Pukat. busana yang digunakan dalam tarian ini sangat sederhana dari pakain tradisi Aceh yang sebenarnya.dari pakain penari wanita baju Aceh,celana hitam panjang, songket yang menutup sampai lutut dan selendang yang dililitkan di kepala,tali Pinggang Aceh, kalung Aceh dan bros baju Aceh sedangkan para penari laki-laki hanya menggunakan baju lengan panjang berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam sarung yang di selempangkan kebahu serta ikat kepala. Properti yang digunakan yaitu raga ikan, topi nelayan dan tali sebagai pukat. dari gerak pawang engkot sampain gerak penutup merupakan ekspresi kehidupan para nelayan yang mencari ikan dilaut. Sehingga tarian ini harus tetap diwariskan dan diteruskan kepada generasi penerus yang akan datang dengan Pewarisan Tari Tarek Pukat melalui Pembelajaran Di Sanggar Cut Nyak Dhien. kegiatan yang ada disanggar Cut Nyak Dhien adapun hal yang terlibat pertama mengenai pola umum latihan yang ada pada sanggar Cut Nyak Dhien yaitu: jadwal latihan di Sanggar, bimbingan latihan dari pelatih sanggar, membuat gerakan dasar sebagai pemanasan, pembagain materi untuk latihan dan pembagain kelompok penari. Didalam proses pembelajaran adanya siswa, pelatih,tujuan,materi,metode media,nilai-nilai yang ditanamkan disanggar dan evaluasi.

 

Kata Kunci: Tari Tarek Pukat

Abstract

The purpose of this research is to study Tarek Pukat Dance as an expression of coastal community life and its inheritance efforts in Cut Nyak Dhien studio. The research method used qualitative method with interdisciplinary approach. The research data was collected by observation, interview, and documentation. The validity check of data using source triangulation, then analyzed using flow reduction, presentation, and data verification The results showed that, Tarek Pukat Dance was created by Yuslizar in 1958. Tarek Pukat describes the activities of fishermen who catch fish at sea tarek means tug whereas trawl is a kind of net used to catch fish. This dance is danced by 13 dancers consisting of 8 female dancers and 5 male dancers. Dance has 19 motion patterns that are divided into two namely 7 patterns of movement for female dancers and 14 for male dancers movement patterns with various floor patterns for male dancers dancedisari danced women dance with sitting position bersaf. The theme used in this dance is the activity of fishermen who are looking for fish at sea. His companions are Serune Kalee, Geundrang Aceh and Rapa'I and Tarek Pukat dance poems. the clothing used in this dance is very simple from the original grip of Aceh tradition. From the clothing of women dancers Acehnese clothes, long black trousers, songket covering up to the knees and scarves wrapped around the head, ropes of Aceh Pangang, Aceh necklaces and Aceh clothing bros while male dancers wear only black long-sleeved shirts and black trousers wrapped in kebuang and headbands. The property used is fish body, fishing hat and rope as trawl. from the motion of the endangered handler to the closing motion is an expression of the life of the fishermen looking for the fish at sea. So this dance should remain inherited and forwarded to future generations who will come with Inheritance Dance Tarek Pukat through Learning In Studio Cut Nyak Dhien. the existing activities were violated by Cut Nyak Dhien while the first thing involved about the general pattern of the existing training at Cut Nyak Dhien studio were: training schedule in Sanggar, training guidance from the studio coach, making basic movements as warming up, distributing material for training and organizing dance groups . In the process of learning the existence of students, trainers, goals, materials, media methods, embedded values are violated and evaluation. Keywords: Tarek Pukat Dance

Full Text:

PDF

References


Baharuddin dan Wahyuni. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.Jogjakarta:Ar-Ruzz Media.

Cahyono, Agus. 2006. “Pola Pewarisan Nilai-nilai Kesenian Tayub”. Jurnal Harmonia Pengetahuan Dan Pemikiran Seni. 7(1):21-33.

Firdaus Burhan, ed. 1986. Ensikopedia Musik dan Tari Daerah, Propinsi Daerah Istimewa Aceh Banda Aceh: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya.

Hamalik, Oemar. 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta:Bumi Aksara.

Hartati, 2010. “Teknik Pembelajaran Tari Pada Sanggar Cut Nyak Dhien Banda Aceh”.Jurnal: ilmiah Fkip Universitas Syiah Kuala.

Hartati, 2013. “Pengelolaan Sanggar Cut Nyak Dhien dalam Pengembangan kebudayaan Aceh”. Jurnal: ilmiah Fkip Universitas Syiah Kuala.

Harun, Mohd. 2007. “Representasi Nilai Estetis Orang Aceh Dalam Hadih Maja”. Jurnal Ilmu-ilmu Sosial Bidang Pendidikan. 9(2):100.

Hawkins. 1990. Mencipta Lewat Tari. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.

Idan, Hermanto. 2010. Pintar Antropologi.Jogjakarta: Tunas Publishing.

Kodiran. 2004. Pewarisan Budaya Dan kepribadaian. Jurnal Humaniora 16 (1), 10-16.

Mohamad, Harun,2009. Memahami Orang Aceh. Banda Aceh: cipta pustaka.

Muhammad, Fidaus. 2010. “Hasil Tangkapan dan Laju Tangkapan Unit Perikanan Pukat Tarik, Tugu dan Kelong”. Jurnal Makara, Teknologi,Vol. 14, No.1.

Muhammad, Takari. 2015. “Mengkaji Secara Saintifik Budaya Musik Aceh dari sisi Struktural dan Fungsional”. Jantho Aceh ISBI.

Mulanto &Cahyono. 2016. Pewarisan Bentuk Nilai dan Makna Tari Kretek. Semarang: Catharsis Journal of Arts Education.

Murtala. 2009. Tari Aceh Yusrizal kreasi yang mentradisi. Banda Aceh: Iskandar.

Netriroza, Arifni. 2007. “Masyarakat Dan Kesenian Naggroe Aceh Darussalam”. Etnomusikologi: Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Seni. 2(6):196.

Nur Syam,2005. Islam Pesisir. Yogyakarta: LKis.

Nurwani, 2011. “Serampang XII: Tari Kreasi Yang Mentradisi”. Harmonia : Jurnal Pengetahuan dan Pemikiran Seni Vol.XI, No.1

Pemerintah kota Banda Aceh, 2008. Seni Tari Aceh

Rachmawati dan Daryanto,2015. Teori Belajar dan Proses Pembelajaran yang Mendidik.Yogyakarta: Gava Media.

Rahmat, Munazir,dkk, 2017. “Menjaga Kelestarian Lingkungan Maritim Pesisir yang Berkelanjutan di Kabupaten Pidie dengan Pendekatan Adat Meulaot”.Jurnal Humaniora, 1(2), 71-78.

Rohidi, 2014. “Pengembangan Media Pembelajaran Pendidikan Seni Budaya Berbasis Kearifan Lokal”.Jurnal Imaji, Vol. VIII No. 1 - Januari 2014.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. 1994. Pendekatan Sistem Sosial Budaya dalam Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang press.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. 2011. Metode Penelitian Seni. Semarang : Cipta Prima.

Rohidi, Tjetjep Rohendi. 2014. Pendidikan Seni Isu Dan Paradigma. Semarang : Cipta Prima Nusantara.

Sedyawati. 2012. BudayaIndonesia Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sugiharto, Bambang. 2013. Untuk Apa Seni. Bandung: Matahari.

Suharsimi Arikunto, 2016. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sulasman dan Gumilar, Setia.2013. Teori-teori Kebudayaan(Dari Teori Hingga Aplikasi) Bandung: CV Pustaka Setia.

Sumaryono. 2016. Antropologi Tari Dalam Perspektif Indonesia. Yogyakarta:Media Kreativa.

Sunarto, 2013. “shamanisme:fenomena religius dalam seni pertunjukan nusantara harmonia”. Volume 13, No. 2 / Desember 2013.

Suwardi Endraswara, 2012. Metodologi Penelitian Kebudayaan.Yogyakarta: Gadjah Mada university Press.

Suyadi, 2015. Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.


Article Metrics

Abstract views: 269   PDF views: 36